Manfaat Tawas Dalam Proses Pengolahan Air Hingga Siap Pakai

Manfaat tawas dalam proses pengolahan air – Air merupakan kebutuhan pokok kehidupan manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu membutuhkan air terutama dalam air minum, memasak, mandi, mencuci pakaian dan lain sebagainya. Saat ini proporsi penduduk Indonesia yang mendapat pelayanan air bersih dari instansi atau perusahaan air minum masih sangat kecil yaitu sekitar 45% di perkotaan dan hanya 36% di perdesaan.

Dalam rangka penyediaan air minum bersih dan sehat bagi masyarakat pedesaan yang kualitas airtanahnya buruk dan belum mendapatkan pelayanan air minum PAM, perlu digalakkannya peralatan pengolahan air minum sederhana yang murah dan dapat diproduksi oleh instalasi pengolahan air minum. . Masyarakat menggunakan bahan yang tersedia di pasar lokal.

Alat pengolahan air minum sederhana adalah alat perawatan. Alat ini dirancang khusus untuk kebutuhan keluarga, dan metode pembuatan serta pengoperasiannya sederhana dan mudah diterapkan, serta biayanya rendah. Cara pengolahan ini menggunakan bahan kimia yaitu hanya tawas dan kapur yang digunakan, dan bahan kimia tersebut dikemas dalam tong (tangki air).

Artikel lain yang mungkin anda tertarik Tips Mengajar Bahasa Inggris yang Efektif untuk Siswa

Pemanfaatan tawas dalam salah satu upaya pengolahan air

Masih banyak daerah di Indonesia yang kualitas airnya kurang baik, seperti bau tidak sedap atau warna keruh. Kualitas air yang buruk disebabkan oleh kotoran seperti partikel logam besi, lumpur dan mikroorganisme yang membentuk suspensi koloid, ukuran suspensi membuat airtanah menjadi keruh dan berubah warna. Dalam fisika, partikel dapat dipisahkan oleh gravitasi (jika air menjadi jernih).

Air keruh akan terkumpul dengan sendirinya di dasar karena partikel kotoran mengendap di lapisan bawah air. Namun, hal ini mungkin membutuhkan waktu, mungkin berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu.Salah satu cara untuk mempercepat proses pengendapan adalah dengan menambahkan bahan kimia yang dapat memicu proses pengendapan.

Pada dasarnya, partikel tersuspensi dalam air memiliki muatan stabil tertentu, dan penambahan aglomerat atau pengikat kimia tersebut dapat menetralkan muatan partikel tersuspensi, sehingga sistem partikel yang lebih besar disebut koagulasi.

Setelah partikel kasar terus bercampur dan mencapai ukuran tertentu, kotoran akan mengendap di dasar dan air menjadi jernih. Bahan koagulasi yang umum digunakan adalah tawas.

Alum atau aluminium sulfat adalah sekelompok garam terhidrasi yang ada dalam bentuk kristal dan memiliki sifat iso-struktural. Kristal tawas mudah larut dalam air. Bauksit atau aluminium sulfat sudah lama disebut sebagai flokulator, dan fungsinya mengumpulkan kotoran dalam proses penjernihan air.

Tawas sangat efektif dalam mengendapkan partikel yang mengapung di air dalam bentuk keloid atau suspensi, sehingga PDAM menggunakannya secara ekstensif dalam proses pengolahan air bersih untuk didistribusikan kepada masyarakat. Meski tawas banyak tersedia di pasaran dan bisa dijual gratis, bukan berarti tawas 100% aman. Apalagi bila digunakan sebagai campuran yang masuk ke dalam tubuh (seperti campuran air dalam makanan atau air minum).

Berikut ini merupakan tahapan pengolahan air secara umum dilakukan

1. Netralisasi Sumber Air Baku

Netralisasi adalah mengatur keasaman air menjadi netral (pH 7-8). Untuk air asam (seperti air gambut) cara termurah dan termudah adalah dengan menggunakan kapur / jeruk nipis. Selain menetralkan air baku yang bersifat asam, fungsi penambahan kapur juga membantu meningkatkan efisiensi proses selanjutnya.

2. Koagulasi Partikel Kotoran Dengan Pemberian Tawas

Koagulasi merupakan proses penambahan bahan kimia ke dalam setelah proses netralisasi sehingga kotaran yang berupa partikel padatan tersuspensi di dalam air dan dengan cepat mengembun dan mengendap. Cara yang mudah yaitu dengan penambahan tawas.

3. Proses Pengendapan Partikel yang Lebih Besar

Biarkan proses pengendapan hingga gumpalan pengotoran mengendap (+ 45-60 menit). Sedimen yang terkumpul di dasar tangki air dapat dibersihkan dengan membuka katup pembuangan yang terletak di dasar tangki air.

4. Proses Filtrasi

Filtrasi dilakukan dengan mengalirkan air yang diendapkan dengan kotoran ke dalam ember penyaring yang terdiri dari penyaring pasir. Tawas atau aluminium sulfat memiliki banyak kegunaan. Salah satunya sudah lama disebut flokulator, dan fungsinya untuk mengumpulkan kotoran selama proses penjernihan air.

Diperlukan proses tambahan sebelum air dialirkan ke unit penyimpanan akhir, yaitu:

  • Proses Pertukaran Ion (Ion Exchange)

Proses ini dirancang untuk menghilangkan zat pencemar (kontaminan) anorganik yang tidak dapat dihilangkan dari proses filtrasi dan pengendapan. Zat dihilangkan pada proses ini adalah arsenik, kromium, kelebihan fluorida, nitrat, radium, dan uranium.

  • Proses Penyerapan (Absorbtion Process)

Pada tahapan ini dibubuhkan zat pencemar organik air berupa karbon aktif ke dalam air. Proses ini bertujuan untuk menghilangkan zat pencemar organik yang menyebabkan rasa, bau, dan berwarna.

  • Proses Disinfeksi (Disinfection Process)

Air yang telah melewati semua proses diatas akan mengalami proses disinfeksi sebelum dialirkan di penampungan akhir. Proses ini diperlukan penambahan zat kimia klorin (chlorin) yang bertujuan untuk membunuh bakteri atau mikroorganisme berbahaya yang terkandung di dalam air.

Sebaiknya gunakan tawas atau aluminium sulfat dalam jumlah yang tidak melebihi dosis yang diijinkan untuk menghindari kemungkinan efek akibat konsumsi tawas yang berlebihan. Semoga artikel ini bermanfaat untuk hidup sehat Anda.

Baca Juga : Langkah yang Diperlukan dalam Pengolahan Air Minum