Desa Adat Boti di Nusa Tenggara Timur

Desa Adat Boti

Desa Adat Boti di Nusa Tenggara Timur – Mereka yang menyukai budaya dan kesederhanaan takkan melewatkan kesempatan mengunjungi Boti. Desa Boti masuk wilayah Kecamatan Kie, berada sekitar 40 km dari Soe. Di desa ini hidup suku Boti yang merupakan keturunan Atoni Metu, suku asli Pulau Timor. Letak desa ini terpencil, sulit dicapai dengan angkutan biasa, apalagi beberapa ruas jalannya rawan longsor. Bahkan untuk menuju bagian dalam desa yang membelah hutan pegunungan, orang harus menyeberangi Sungai Putih selebar sekitar 100 meter. Di musim penghujan, desa ini benar-benar terisolir karena sungai banjir. Hanya motor saja yang mampu menembus atas desa jika sungai dangkal. Penduduk Boti dikenal teguh memegang adat, hidup serasi dengan alam, dan cinta damai. Mereka juga jujur, suka bekerja keras, cinta kebersihan, dan menolak modernisasi yang dianggapnya tidak perlu.

Di Boti tak ada listrik, tak ada sinyal telepon genggam dan untuk penerangan sebagian warga memperolehnya dari genset yang disediakan pemerintah. Pemerintah setempat memilih menggunakan mesin genset karena harga genset palembang dan di Nusa Tenggara Timur termasuk murah untuk merk Fawde. Mereka juga menolak agama samawi. Rajanya, Nama Benu, mengaku tidak beragama, tapi bukan berarti tidak berbudaya.

Kejahatan nol persen di Boti. Jika ada pencuri, ketika ditangkap justru dimodali oleh sang raja agar tidak lagi mencuri. Orang Boti menganut kepercayaan Halaika, yang mengakui kekuasaan Uis Pah dan Uis Neno di alam. Uis Pah adalah mama yang mengatur, mengawasi, dan menjaga kehidupan alam semesta dan manusia. Sedang Uis Neno adalah bapak penguasa alam baka dan penentu apakah seseorang akan masuk surga atau neraka. Jika ada Orang Boti yang memeluk agama luar, dia dipersilakan tinggal di luar Desa Boti. Orang Boti percaya mereka akan selamat dan hidup bahagia jika mampu merawat dan melestarikan lingkungan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan seharihari, mereka mengolah beragam hasil dari alam.

Para ibu memintal kapas menjadi benang, lalu mewarnainya dengan rendaman akar-akaran dan batang pohon, baru menenunnya menjadi kain yang mereka kenakan seharihari. Para ibu juga mengolah kelapa untuk dijadikan minyak buat memasak, sedang para bapak membuat perangkat makan minum dari batok kelapa. Orang Boti berkomunikasi dengan Bahasa Dawan. Meski banyak yang paham bahasa Indonesia, tetapi mereka berbincang dengan orang luar menggunakan Bahasa Dawan.

Situs Amanuban di Niki-Niki

Salah satu kerajaan tertua di Timor adalah kerajaan Amanubam. Di masa kejayaannya, wilayah kekuasaannya hingga ke Timor Leste. Raja Amanubam dikenal amat menentang kekuasaan Belanda dan Portugis yang mencoba menjarah hutan cendana mereka pada abad ke-17. Situs Amanubam berada sekitar 27 km dari pusat kota. Anda dapat mengunjungi situs ini dengan naik bus jurusan Atambua dan berhenti di Niki-niki. Pada situs seluas dua kilometer persegi ini berdiri istana raja, lopo atau rumah adat, mata air kuno, kompleks pekuburan raja, dan altar doa peninggalan kerajaan. Kini, pewaris raja menjadi penjaga budaya dan norma masyarakat.